Jakarta — Pembangunan di Kalimantan kini memasuki babak baru. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam mendorong kemajuan wilayah yang kaya sumber daya tersebut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam keterangannya, Selasa, AHY menekankan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Ia membuka ruang sinergi yang luas dengan perguruan tinggi, dunia usaha, hingga komunitas, guna memastikan pembangunan tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran dan berkelanjutan.

“Pembangunan hari ini bukan sekadar membangun fisik, tetapi bagaimana hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Pendekatan pentahelix menjadi strategi utama yang diusung Kemenko Infra. Model ini mengintegrasikan peran pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media, dan masyarakat dalam satu ekosistem pembangunan. Dalam konteks ini, kampus tidak lagi sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat riset dan inovasi yang strategis.

Salah satu yang disorot AHY adalah peran Institut Teknologi Kalimantan (ITK). Ia menilai kampus tersebut memiliki potensi besar dalam mencetak sumber daya manusia unggul sekaligus menjadi motor penggerak inovasi teknologi di Kalimantan.

“ITK diharapkan menjadi pusat pengembangan teknologi yang mampu mendorong kemajuan wilayah melalui riset yang aplikatif,” tambahnya.

Lebih jauh, AHY menekankan bahwa pembangunan infrastruktur harus berorientasi pada dampak nyata—mulai dari pengurangan kemiskinan, pemerataan ekonomi, hingga penciptaan lapangan kerja. Infrastruktur, menurutnya, bukan sekadar proyek, melainkan instrumen untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Di sisi lain, Kalimantan dinilai memiliki peluang besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru nasional, terutama dengan pengembangan kawasan strategis di Kalimantan Timur. Namun, potensi ini juga membawa tantangan besar: bagaimana mengelola sumber daya alam secara bijak dan berkelanjutan.

Karena itu, AHY menegaskan pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi (prosperity) dan kelestarian lingkungan (sustainability). Kedua aspek tersebut, menurutnya, harus berjalan beriringan dalam setiap kebijakan pembangunan.

“Kami siap berkolaborasi dengan semua pihak. Ini bukan hanya tentang pembangunan hari ini, tetapi tentang masa depan Kalimantan yang lebih maju, inklusif, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Dengan semangat kolaborasi tersebut, pemerintah optimistis Kalimantan tidak hanya menjadi pusat pertumbuhan baru, tetapi juga contoh keberhasilan pembangunan yang terintegrasi antara manusia, infrastruktur, dan lingkungan. (Aji)