Mataram — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menghadirkan terobosan di sektor pendidikan melalui program Sekolah Rakyat yang dirancang tidak hanya membuka akses belajar, tetapi juga menjadi ruang aman bagi anak-anak dari kelompok paling rentan.
Program ini muncul sebagai respons atas meningkatnya kekhawatiran terhadap kasus kekerasan pada anak, mulai dari perundungan hingga kekerasan fisik dan seksual. Sekolah Rakyat hadir sebagai solusi dengan pendekatan yang lebih komprehensif—menggabungkan pendidikan, perlindungan, dan pemulihan psikologis.
Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak NTB, Ahmad Masyhuri, menegaskan bahwa program ini menyasar anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, khususnya mereka yang berada pada kelompok kesejahteraan paling bawah.
“Sekolah Rakyat ini untuk melindungi anak-anak di garis terbawah, terutama yang benar-benar tidak mampu,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Sekolah Rakyat juga membuka ruang bagi anak-anak dengan latar belakang sosial kompleks—seperti korban penelantaran hingga trauma akibat bencana. Bahkan, pendampingan psikolog menjadi bagian penting dalam proses pendidikan, sehingga anak tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga pulih secara mental.
Salah satu keunggulan utama program ini adalah konsep sekolah berasrama (boarding school). Dengan sistem ini, anak-anak mendapatkan pengawasan penuh, terlindungi dari pengaruh negatif lingkungan luar, serta memperoleh pembinaan yang lebih intensif.
Menariknya, hingga saat ini tidak ditemukan kasus kekerasan di lingkungan Sekolah Rakyat di NTB. Justru, tantangan yang muncul lebih banyak berasal dari kedekatan emosional keluarga yang belum siap berpisah dengan anak mereka.
Dari sisi fasilitas, Sekolah Rakyat dirancang dengan standar tinggi. Seluruh kebutuhan siswa ditanggung negara, mulai dari pendidikan, tempat tinggal, konsumsi, hingga perlengkapan belajar berbasis teknologi digital.
Saat ini, NTB telah memiliki lima Sekolah Rakyat rintisan yang tersebar di berbagai wilayah seperti Lombok Barat, Lombok Timur, dan Sumbawa. Selain itu, satu sekolah permanen tengah dibangun di Lombok Utara dengan konsep pendidikan terintegrasi dari jenjang dasar hingga menengah.
Melalui program ini, pemerintah berharap Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi benteng perlindungan sekaligus harapan baru bagi anak-anak dari kelompok rentan untuk meraih masa depan yang lebih baik.


