Banjarnegara – Fenomena embun upas kembali menyelimuti kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, seiring turunnya suhu udara ekstrem pada musim kemarau. Bahkan, sejumlah warga melaporkan suhu di kawasan tersebut sempat mencapai minus 6 derajat Celsius pada 9 Juli 2026, sehingga memicu terbentuknya lapisan es tipis di permukaan rumput, tanaman, hingga atap rumah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Embun upas merupakan fenomena alam yang terjadi ketika suhu permukaan tanah turun hingga di bawah titik beku. Uap air yang berada di udara kemudian langsung berubah menjadi kristal es tanpa melalui fase cair. Akibatnya, permukaan tanaman dan benda-benda di ruang terbuka tampak tertutup lapisan putih menyerupai salju.

Secara ilmiah, kondisi tersebut dipengaruhi oleh langit yang cerah pada malam hari, kelembapan udara yang rendah, serta minimnya tutupan awan. Kombinasi faktor tersebut menyebabkan panas di permukaan bumi cepat terlepas ke atmosfer sehingga suhu udara pada dini hari turun drastis hingga mencapai titik beku. Fenomena ini lazim terjadi di kawasan dataran tinggi Dieng setiap musim kemarau, terutama pada periode Juni hingga September.

Di balik keindahannya, embun upas membawa dampak bagi sektor pertanian. Lapisan es yang menempel pada daun dan batang tanaman dapat merusak jaringan tanaman sehingga berpotensi menyebabkan gagal panen, terutama pada komoditas kentang, sayuran, dan tanaman hortikultura lainnya. Karena itu, masyarakat setempat menjuluki fenomena tersebut sebagai “upas”, yang dalam bahasa Jawa berarti racun, karena efeknya yang dapat merusak tanaman.

Meski demikian, embun upas juga menjadi daya tarik wisata musiman. Banyak wisatawan sengaja datang ke Kompleks Candi Arjuna dan sejumlah titik di Dieng pada pagi hari untuk menyaksikan hamparan embun es yang hanya muncul dalam waktu singkat sebelum mencair saat matahari mulai menghangatkan permukaan bumi.

Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk mempersiapkan perlengkapan menghadapi suhu dingin ekstrem, seperti mengenakan pakaian berlapis, sarung tangan, penutup kepala, dan menjaga kondisi tubuh tetap hangat. Sementara bagi petani, langkah antisipasi perlu dilakukan untuk meminimalkan kerusakan tanaman akibat paparan suhu beku selama musim kemarau berlangsung.