Bandar Lampung — Pemerintah pusat menegaskan penanganan tuberkulosis (TBC) harus dilakukan secara serius dan terintegrasi. Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor dan keterbukaan data menjadi kunci utama dalam mempercepat penanganan TBC di daerah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan penguatan komitmen penanggulangan TBC di Bandar Lampung. Ia menegaskan bahwa pemerintah menargetkan persoalan TBC dapat dituntaskan dalam waktu tiga tahun ke depan sebagai bagian dari prioritas nasional.

“Presiden memberi perhatian khusus. Tiga tahun ini harus sudah tuntas,” ujarnya.

Wiyagus menilai, keberhasilan penanganan TBC tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan keterlibatan aktif semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat. Pendekatan yang dilakukan pun harus berubah dari pasif menjadi proaktif, dengan menjangkau langsung masyarakat untuk melakukan deteksi dini.

Ia menekankan, strategi “jemput bola” menjadi langkah penting agar kasus dapat ditemukan lebih cepat dan penanganan bisa segera dilakukan sebelum meluas.

Selain itu, faktor transparansi data juga menjadi sorotan utama. Menurutnya, data yang akurat dan terbuka akan membantu pemerintah dalam merancang intervensi yang tepat sasaran.

“Tidak usah takut memaparkan data yang sesungguhnya, tidak perlu ada yang disembunyikan,” tegasnya.

Meski demikian, ia mengapresiasi kesiapan Pemerintah Kota Bandar Lampung dalam menangani TBC, mulai dari fasilitas layanan kesehatan hingga dukungan tenaga di lapangan. Namun, upaya tersebut harus terus diperkuat dengan sinergi yang lebih luas.

Lebih jauh, Wiyagus mengingatkan bahwa TBC bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga berdampak langsung pada produktivitas masyarakat dan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, percepatan penanganannya menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap penderita TBC. Menurutnya, penyakit ini bukan aib dan dapat disembuhkan jika ditangani dengan tepat.

Dengan pendekatan kolaboratif dan keterbukaan data, pemerintah optimistis penanganan TBC dapat dipercepat dan memberikan dampak nyata bagi kesehatan masyarakat secara luas. (Red)